Monday, June 20, 2011

Boikot minyak kelapa sawit ??


Minyak nabati, khususnya minyak kelapa sawit atau minyak sawit akhir-akhir ini menunjukkan perkembangan cukup pesat , dari segi permintaan. Namun demikian, minyak kelapa sawit saat ini menghadapi tantangan cukup berat. Reputasi minyak kelapa sawit tengah dihantam bertubi-tubi dengan berbagai isu, policy serta langkah-langkah konkrit mulai dari isu lingkungan, ancaman boikot, isu dampak kesehatan sampai dengan tidak berimbangnya publikasi-publikasi ilmiah pada citra minyak kelapa sawit. Oleh karena itu, perusahaan minyak kelapa sawit harus segera memikirkan dan menjalankan langkah nyata guna mempertahankan kelangsungan bisnisnya tersebut.
Isu Lingkungan
Sebagai contoh adalah isu kerusakan lingkungan menerpa produsen minyak sawit di Indonesia, misalnya Sinar Mas. Baru-baru ini, Sinar Mas, sekali lagi dilaporkan telah menjanjikan untuk berhenti menebang hutan dan lahan gambut halus dalam rangka untuk mendirikan perkebunan kelapa sawit di Indonesia . Perusahaan minyak sawit tersebut telah menerima pemeriksaan banyak untuk praktik bisnis berkelanjutan selama bertahun-tahun, tengah berusaha meyakinkan publik bahwa hal itu bisa membuat perbaikan drastis.

"Kami tidak berencana mengembangkan perkebunan di hutan High Carbon Stock (HCS), kawasan hutan Bernilai Konservasi Tinggi dan lahan gambut," kata Daud Dharsono, Presiden Direktur SMART, anak perusahaan dari Golden Agri-Resources (GAR), bagian dari Sinar Mas group. Dia menambahkan bahwa perusahaannya telah mengembangkan kemitraan dengan The Forest Trust, sebuah kelompok konsultan berbasis di Jenewa dan bekerja untuk melindungi hutan, agar upaya tersebut berhasil.
Tapi Greenpeace, kelompok yang telah melawan Sinar Mas di masa lalu dan meyakinkan pembeli minyak sawit besar seperti Nestle dan Unilever untuk berhenti membeli minyak kelapa sawit dari perusahaan minyak kelapa sawit tersebut melaporkan bahwa arah baru perusahaan minyak kelapa sawit tersebut meragukan. Greenpeace mengkhawatirkan pelestarian hutan Indonesia dimana hutan tersebut menjadi rumah bagi spesies langka, termasuk orangutan, harimau sumatera, dan badak.
"Ini jika benar dilakukan - bisa menjadi langkah bersejarah menuju perlindungan hutan dan lahan gambut seutuhnya di Indonesia," ujar Rolf Skar dari Greenpeace.
Penting untuk diingat bahwa budidaya kelapa sawit itu sendiri tidak masalah. Masalahnya adalah cara di mana perusahaan besar seperti GAR melakukan budidaya sawit tersebut. Minyak kelapa sawit adalah minyak sehat, dan menjadi sumber kaya vitamin E. alami ini juga jauh lebih sehat daripada alternatif komersial seperti minyak canola hasil rekayasa genetik dan minyak sayur terhidrogenasi
Isu Kesehatan
Ancaman yang tidak kalah seramnya terhadap minyak kelapa sawit adalah petimbangan kesehatan, meski sebenarnya masih menjadi kontroversi. Sebagaimana sampaikan oleh Prof. Dr. Sri Rahardjo, M.Sc., seorang dosen di Fakultas Teknologi Pertanian UGM, rekomendasi tentang adanya hubungan erat antara diet, kolesterol darah, dan PJK (Penyakit Jantung Koroner) diperoleh dengan cara memilih sebagian hasil penelitian yang melaporkan di antaranya: epidemi PJK di abad ini, peningkatan konsumsi lemak jenuh, dan konsumsi lemak jenuh dam kolesterol rendah mengurangi resiko PJK. Namun demikian, sejauh ini belum ada penelitian membuktikan bahwa ada kaitan secara langsung antara konsumsi minyak tropis (termasuk minyak kelapa sawit) dengan PJK. Bahkan akhir-akhir ini, banyak ditemukan penelitian melaporkan bahwa minyak sawit dan minyak kelapa mengandung Medium Chain Triglycerides (MCT) berperan positif bagi kesehatan. Di samping itu, sekarang makin banyak laporan bahwa sebagian besar penderita PJK memiliki kadar kolesterol darah normal.
Tetapi ternyata banyak konsumen masih meyakini dampak buruk minyak sawit bagi kesehatan. Misalnya jaringan penyedia makanan cepat saji KFC di area UK dan Irlandia, baru-baru ini (April 2011) dilaporkan telah memutuskan untuk untuk menghentikan menggoreng ayam dalam minyak sawit.
Perusahaan tersebut menyampaikan bahwa hal itu untuk mengganti minyak nabati tersebut (minyak kelapa sawit) dari proses deep fat frying untuk mendapatkan "manfaat ganda" dengan mengurangi perubahan iklim dan penyakit jantung. KFC mulai memakai minyak rapeseed dengan kadar oleat tinggi di 800 outlet di Inggris dan Irlandia, dengan biaya perkiraan £ 1m setahun. Langkah ini diharapkan mengurangi kadar lemak jenuh dalam ayam sebesar 25 persen, menurut perusahaan.
Mark Bristow, kepala food assurance dari KFC berkata: "Beralih ke minyak rapeseed dengan oleat tinggi berarti kita tidak hanya bisa menawarkan pelanggan kami manfaat dari lemak jenuh dikurangi, tetapi jaminan kami melakukan segalanya untuk mengurangi dampak terhadap lingkungan. "
KFC menambahkan: "ekspansi global industri minyak sawit telah menjadi kontributor terhadap penghancuran hutan hujan tropis dan lahan gambut untuk membuat jalan bagi perkebunan kelapa sawit, sehingga telah secara tidak sengaja menyebabkan sejumlah besar gas rumah kaca didorong ke atmosfer."
KFC masih memakai minyak sawit di kentang goreng, roti, tortilla dan kentang goreng, tetapi melaporkan telah memulai pembicaraan dengan pemasok bertujuan supaya mereka beralih ke alternatif lain atau minyak sawit bersertifikat lestari (sustainable-certified).
Terungkapnya peran industri minyak kelapa sawit dalam penggundulan hutan dua tahun lalu, mengakibatkan banyak pengecer dan produsen telah sepakat untuk membeli minyak tersertifikasi oleh Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Bahkan lebih parahnya lagi, ada pihak-pihak ingin Uni Eropa untuk memaksa perusahaan-perusahaan pangan mendaftar minyak kelapa sawit yang berfungsi sebagai bahan dalam pangan olahan mereka karena sering ditulis sebagai 'minyak sayur' pada kemasan.
Peran publikasi ilmiah
Selain itu, peran publikasi ilmiah cukup deras, khususnya pada tingkat internasional dalam menggusur minyak kelapa sawit. Hal ini tampak pada misalnya, World Congress on Oils and Fats terselenggara pada 27 s.d. 30 September 2009 di Australia (Sydney). Tampak ada upaya sistematis pencitraan minyak kanola sebagai minyak paling menyehatkan. Publikasi ilmiah minyak tidak menonjol. Bahkan hanya ada 1 judul tentang virgin coconut oil.
Hal ini berarti, Indonesia bersama dengan negara produsen minyak sawit dan minyak kelapa lain harus mempertegas positioning minyak sawit dan minyak kelapanya bagi segmen pelanggan di tingkat dunia.

Artikel terkait:
Palm stearin
Komposisi minyak kelapa sawit
Pengolahan minyak kelapa sawit
Cocoa butter equivalent sebagai produk minyak sawit

No comments: